Posts

dunia lain itu bernama fantasi

Kali ini aku pengen cerita, apa yang aku alamin kemarin... ya, tepatnya nggak kemarin juga sih, tapi hari Minggu, tanggal 29 Maret 2015. Well , aneh kali ya kalau aku cerita sambil gaya formal, karena aku udah senyam-senyum sendiri aja kalo inget-inget. Sebenernya....HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHHA!!! OKE DAN AKU SEKARANG LAGI NGETIK INI SAMBIL NGEDENGERIN LAGU UPTOWN FUNK WAHAHAHA!!! YATUHAN INI JAM BERAPAAA?!!  Oke, maafkan kehebohanku. Jadi tuh...aku... demmm , pengen ketawa mulu sih hahah. Aku ikut workshop menggambar portrait . That's it . Dan........itu yang ngadain workshop .......adalah artist idolaku yang tiap dia ngepost karyanya di Instagram aku mesti roll depan, sambil... teriak tanpa suara. Hem, kayanya aku harus kembali ke jalan yang benar, lupakan fangirling -an. Hahah. Aku bikin gaya narasi aja ya, biar enak dibacanya! --- 29th March, 2015 Sulanjana Rd. 36 Hidayat Gallery Tamansari, Bandung City 08.57 a.m. Aku mendongak, celingukan. Men...

been a month

Udah sebulan aja ya? Hahaha bisa aja nggak nulis, rasanya otak ini penuh sama skenario-skenario jahat.  Yaudalah ya, yang penting sekarang bisa dikeluarin.

Tidak Tahu Harus Memulai dari Mana

Berjam-jam, duduk. Menatap, lurus. Sedikit geser, berdiri. Duduk lagi. Mengacak rambut. Menggaruk yang tidak gatal. Menelengkan kepala, berdiri. Menatap lekat. Menyusun kata. Duduk lagi. Mendengus, klik. Shut down. Force Shut Down? Ok. System is shutting down. Resah. lacuptea

Senandung Malam

Mmmhmmmhmmm... Mmmmhmhmhmmmm... bersenandung, pelan. supaya tetangga tidak mendengar. malam semakin pekat. sepekat kopi dalam cangkir. sial, matanya tak mau kerjasama. ia terjaga, membuat guratan-guratan bawah mata semakin pekat juga. kejadian hari ini begitu banyak. bagaimana tatapan ngeri itu melayang. seketika, saat ia melihat     perasaannya dibantai habis-habisan. Mmmmhmhmhmmm... Mhmhmhmmmmmhm.... bersenandung, sangat pelan. mungkin tak ada yang mendengar. atau mungkin ada. yang lain yang sedang menangis di dadanya. lacuptea

today is the d-day

mama kata rame bareng? iya, banget.

things will get better

Hm, mungkin iya. Aku doakan saja. Aku, dia, dan semua kesalahpahaman ini. Semoga semua menjadi semakin baik kedepannya. Semoga takkan terulang lagi. Semoga,    iya, semoga.

Promise

Dan sungguh, mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, tidak akan berbalik ke belakang (mundur). Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggung jawabannya . -QS Al-Ahzab:15  Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah . Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya) . -QS Al-Ahzab:23 maafkan aku , lacuptea

well,

Aku ingin membiarkan semuanya. Kepala kita sama, sama-sama keras seperti batu. Asal kau tahu, mengapa manusia lebih memilih untuk mengingat hal-hal yang membuat sedih, yang menyakitkan? Bukankah hal-hal yang menyenangkan lebih layak untuk diingat? Bahkan, bila nanti aku pergi, apakah kau tetap akan mengingat keburukanku? Bahkan, bila nanti aku tak mampu menjangkaumu lagi, jika aku sudah tak disini, apakah kau tetap akan mengingat hal-hal yang menyedihkan? Apakah itu yang kau mau? Aku akan sangat sedih bila kau melakukannya, sungguh. Mengapa hal-hal terbaik yang pernah kita lakukan selama ini, seakan-akan menguap di permukaan? Aku sungguh menyayangimu, bacalah apa yang aku tulis tentangmu. Bagaimana perasaanku, ketika kau bersikap seperti ini padaku? Mungkin aku memang terlalu rapuh, atau apalah, terserah kau saja. Aku tak sanggup berpikir jika kau masih terus memperumit hal ini. Begini saja, aku ingin membiarkan semuanya.  lacuptea

M A S K

Look at him, deeper. What we see and what he feel is different. He's not being himself. He's being someone that everyone wants him to be. He wears ... m a  s   k. lacuptea

kali ini aku tak mau memberi judul

Well , Ruth berpikir. Lama. Lalu, ia sampai pada kesimpulan, don't get too close or I'll hurt you. ruth. lacuptea

One Fine Day

Ruth mendekap kedua kakinya, sangat rapat. Ia tak mampu berpikir lagi. Apapun yang terjadi akhir-akhir ini dalam hidupnya hanyalah kekacauan. Ia hampir tak memiliki seseorang untuk berbagi tentang kehidupannya. Lehernya terasa terjerat, sesak, ia tak sanggup lagi bernapas. Ruth menenggelamkan kepalanya dalam-dalam di lututnya, seraya berpikir apakah ia akan mengalami hal ini selamanya.  Mungkin sudah sejam Ruth dalam posisi itu. Lehernya mulai terasa sakit, namun tak sesakit perasaannya. Rasa bersalah menyeruak di dada Ruth, perlahan menggerogoti kewarasannya. Ruth tak mengerti kenapa hal ini harus terjadi padanya. Ruth kecewa, mengapa ia harus berada dalam keadaan ini. Ia kacau saat mendengar teriakan-teriakan penolakan dari kepalanya, kemudian dengan segera mengambil headset , memasangnya, memperbesar volumenya hingga maksimum. Ruth tak peduli dia akan menjadi tuli. Lebih baik ia tak mendengar apapun, daripada ia harus menanggung sesak yang ia terima ini. ...

Kau, Aku, dan Macaroons

Buru-buru Ruth mengambil langkah ke kafetaria karena rasa lapar yang tak tertahankan dari perutnya menyeruak. Kelas baru saja bubar dan Ia ingin cepat-cepat melahap makanan di dalam kotak bekalnya. Kemudian Ia melihat Clarke, sedang duduk sendiri di meja paling ujung--" Clarke! " sapa Ruth dengan antusias. Ia pun menghampiri Clarke dengan segera. "Hai Ruth!! Kau mau makan juga di sini?"    " Well, as you see! " Ruth segera meletakkan kotak bekalnya di meja itu. Ia duduk berhadapan dengan Clarke yang tampak asyik menikmati strawberry parfait- nya. Ruth mulai menyendok bekal makanannya dengan semangat. "Clake, apa kabar? Bagaimana liburanmu?" ucapnya mengawali pembicaraan. Kini mulut Ruth penuh dengan chicken bruschetta buatannya. "Beginilah Ruth, hahah-- yah , mungkin pertanyaan itu yang seharusnya aku tanyakan padamu! Anyway... kau kelaparan?" Clarke memandangi Ruth dengan heran, bagaimana gadis itu memasukkan sesendok pen...

Ivory Woods (Chapter 1)

Sekelebat bayangan itu muncul. Menciptakan siluet putih dalam hutan gelap ini. Ia seperti angin, tak terlihat namun dapat dirasakan kehadirannya.  Putih. Semuanya putih. Rambut ivory sepinggangnya mengayun lembut, menciptakan kilat-kilat keemasan. Irisnya bening seperti kristal kemerahan, kosong, sampai hampi-hampir kau dapat melihat jiwanya di sana. Ia terus berjalan tanpa menggunakan alas kaki--tanpa takut tergelincir lumut yang tebal diantara bebatuan. Jubah cokelat panjangnya menutup hampir seluruh tubuhnya, serta tudung lebar itu mengayun dibawah helaian rambutnya. Kulitnya sangat putih, seputih alisnya, bahkan jika kau bertemu, mungkin saja kau mengira bertemu dengan ratu kerajaan es atau peri hutan. Tapi tidak, dia sama seperti kita. Dia manusia.. .biasa .   "Bangunlah" ucapnya, sambil membawa beberapa buah beri liar. "Aku tak ingin kau mati kelaparan," sambungnya.   Sosok yang diajak berbicara, hanya bergerak sedikit, tetap tidak mau membuka...

Perbincangan Tengah Malam

Hanya ada aku, kau dan secangkir teh. Kedua bola matamu menyiratkan kelelahan, menciptakan urat-urat kemerahan yang nampak jelas bagiku. Kita tersenyum, membicarakan kenangan yang dulu kita alami bersamanya. Kau nampak kuat, tapi kau menangis dalam kesendirianmu. Mata kita basah dengan kenangan, memori itu terlalu indah untuk diungkapkan. Bagaimana kau, dan aku juga, merindukannya. Kulihat sirat-sirat kesedihan di setiap senyumanmu. Sebelumnya, kita duduk memandangi rerumputan yang kian liar dan meninggi itu. Sebelum kita sampai pada meja ini. Sebelum kita berbincang tentang semuanya. Namanya jelas terpahat di sana. Kau tahu? Kita sama. Hanya kau lebih pintar menyembunyikan perasaanmu. Atau sebenarnya tidak. Atau mungkin kau yang lebih sedih? Maafkan aku. Kenangan itu terlalu menyedihkan. Teriakan kita hari itu, masih jelas terdengar. Bagaimana kita memanggil namanya. Bagaimana akhirnya kita menguatkan diri kita sendiri. Kutatap lagi wajahmu. Wajahmu sudah tidak ...

Mungkin Jika Aku Bisa Mengatakannya Padamu, Nyatanya Aku Tak Bisa

Tak ku mengerti mengapa begini Waktu dulu ku tak pernah merindu   Tapi saat semuanya berubah   Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku mungkin memang ku cinta mungkin memang kusesali aku hanya ingkari kata hatiku saja tapi mengapa kini... Nggak. Aku nggak jatuh cinta padanya. Kupencet tombol next  di iPodku. Nggak mungkin kan aku memikirkannya? Apa sih yang ada di pikiranku? Hey, we are just friend, nothing more than that. Aku berjalan lunglai ke kamarku. Mencoba menghapus apapun yang sedang kupikirkan. Rasanya, terlalu lama di ruang keluarga untuk memandangi hujan membuatku semakin gila. Kurebahkan badanku di kasur. Terlalu lelah, aku terlalu lelah. Kucoba memejamkan mata, tapi aku tak bisa. Pada akhirnya, aku meraih iPhoneku, mencoba menghibur diri dari semua perasaan aneh ini. Kubuka Instagram , namun secara tak sadar jemariku mengetikkan namanya, ingin tahu apakah dia juga memiliki akun disini. Kupandangi foto-fotonya-- dan ada fotoku. Ada fotoku! Sedang tert...